Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

WAWASAN NUSANTARA

HomeSEKSI DAN BERMUTUJan 19, 2008
WAWASAN NUSANTARA ADALAH SURAT KABAR YANG MENGABARKAN ANDA KABAR TENTANG MASA LAMPAU DAN RELEVANSINYA TERHADAP MASA KINI.
PEMIMPIN: PARTHA DHANANJAYA
REDAKTUR: ADIPATI MARTOLOYO

TERAPI TETAPI ADALAH RUBRIK OPINI DARI SURAT KABAR WAWASAN NUSANTARA YANG ISINYA MENGUNGKAPKAN SISI "KETETAPIAN" DARI SUATU HAL

SURAT KABAR WAWASAN NUSANTARA EDISI PERDANA TERBIT BULAN SURA 1961 SAKA ATAU JANUARI 2008. TERSEBAR DI BEBERAPA TEMPAT SEPERTI PAPAN PENGUMUMAN KAMPUS-KAMPUS DI BANDUNG DAN DI BEBERAPA TOKO BUKU DAN PERPUSTAKAAN. ANDA BISA BERKONTRIBUSI DENGAN MENGIRIMKAN BERITA DARI MASA LAMPAU KE ALAMAT WAWASAN_NUSANTARA@YAHOO.COM

Blog EntryJul 13, '08 11:14 AM
for everyone
    

Tahun-tahun 90-an awal, ketika Indonesia belum dihantam krisis moneter, setiap hari minggu Mbah Putri selalu membuat sego karak alias nasi aking. Nasi kering yang kemudian direndam dan dimasak lagi itu kalau ditambah garam sedikit, plus parutan kelapa, tak terbayangkan nikmatnya. Kalaupun tak dibarengi lauk, ia tetap uenak tenan! Soal gizi yang katanya berpengaruh terhadap kehidupan, kami serahkan kepada Tuhan. “Sing penting bismillah!” kata Mbah Putri. Mbah Putri, boleh dikata memperalat agama agar kami tidak minta daging atau telur, tapi toh setelah makan nasi aking saya masih bisa main bola, masih bisa menimba pompa air bak mandi rumah Mbah Putri yang gedenya 1/8 kolam renang dan alhamdulillah wasyukurillah hingga sekarang saya masih ada.

Sayang memang, sego karak yang uenak tenan itu cuma jadi gaya hidup saya. Seandainya Mbak Dian Sastro yang jadi sir-siran sejuta umat di Indonesia itu gemar makan nasi aking, niscaya ia mendidik berjuta-juta manusia Indonesia yang mengidolakannya bagaimana hidup prihatin. “Nasi aking adalah salah satu media dimana kita belajar untuk hidup prihatin, tidak boros” begitu bijak komentar Mbak Dian di sebuah acara infotainment –tentunya dalam imajinasi saya.

Atau seandainya Mas Bondan Winarno itu sekali-kali makan sego karak di acara televisi yang dipandunya, mungkin sego karak jadi gaya hidup atau minimal bakal dibilang kearifan lokal. “Nasi aking atau kalau di Jawa dikenal sebagai sego karak, adalah kreativitas khas masyarakat Indonesia dimana segala hal termasuk makanan, kita pasrahkan pada Tuhan. Perihal makan, yang penting bukan bagaimana makanannya, tapi kepasrahan kita, kepercayaan akan keberadaan Tuhan” begitu ucap Mas Bondan – sekali lagi, dalam khayalan saya. Tapi apa bismillah atau kalimat puja-puji kepada Tuhan laku di layar televisi ketimbang “Mak Nyus”-nya Mas Bondan?

Ketika saya dengar soal krisis pangan, krisis Bahan Bakar Minyak, dan krisis lainnya hingga pemerintah pusat menyarankan berhemat, khayalan-khayalan itu sempat bangkit kembali. Saya ingin memasyarakatkan sego karak sebagai pilihan gaya hidup hemat. Untuk menambah anggaran, pemerintah memang masih bisa jual empat atau lima perusahaannya, tapi kita-kita ini mau jual apa lagi?

Toh, saya dengar ada masyarakat dan akademisi yang tak malu-malu menyarankan kotoran kerbau, sapi dan juga manusia, sebagai jalan pemenuhan kebutuhan gas. Lumpur yang menjijikkan saja sekarang bisa jadi gaya hidup di tempat-tempat body massage itu kok, masak sego karak tidak?

Tapi ya susah Mas” komentar seorang teman. “Kenapa? Apa karena nasi aking tidak bergizi”, tanya saya. “Bukan”. “Lalu?”. “Habis kalau ada nasi aking, yang tergambar pasti orang-orang yang modelnya kayak sampeyan Mas, serba papa dan miskin. Siapa lagi coba yang hobi makan nasi aking kalau bukan orang miskin? Terus mana ada orang yang mau disebut orang miskin?”.

Waduh! Benar juga, tidak ada orang di muka bumi yang mau dipanggil ‘si miskin’. Saya sendiri emoh. Emoh milik saya dengan kecuali tentunya. Kecuali kalau sedang ada bagi-bagi kompor gas dan uang subsidi. Wong jarang-jarang pemerintah kita memberi rakyat dengan persyaratan sederhana tanpa lewat berlapis-lapis meja. Demi rejeki langsung dan tunai, saya pun mengalah kepada pemerintah yang memaksa saya mengaku; “sangat miskin” atau “miskin” atau “hampir miskin”. Apakah saat itu pemerintah puas diakui sebagai pemelihara rakyatnya, pengasih warga republik seperti saya, saya tak ambil pusing.

Mimpi memasyarakatkan sego karak alias nasi Aking pun surut. Pertama, jelas saya tidak mau dibilang orang miskin. Kalau saya jadi promotor nasi Aking, bisa-bisa saya cuma dianggap orang yang paling miskin di Nusantara yang berupaya cara hidupnya diterima masyarakat sekelas Mbak Dian Sastro dan Mas Bondan Winarno. Semua mata akan melihat saya dengan pandangan prihatin. Saya bukanlah orang yang hobi makan nasi aking, seperti halnya anak-anak imut yang hobi makan sabun atau makan kayu yang sering dibilang ‘unik’ di acara televisi itu. Saya, buat mereka, hanyalah yang terpaksa makan nasi aking sebab miskin dan tak kuat beli beras.

Alasan kedua, kalau saya harus mengkampanyekan nasi aking bukan tanda orang miskin, kampanye saya jelas kalah dengan kampanye tokoh-tokoh nasional yang seringkali bilang nasi aking adalah indikator kemiskinan dan ketidaksejahteraan. “Di masa pemerintahan sekarang, masih banyak orang makan nasi aking. Sungguh memprihatinkan!” seru mereka. Beberapa yang lebih berani menambahi dengan, ”maka di pemilu nanti, pilihlah saya”.

Punya bondo opo saya untuk muncul di televisi lama-lama dan membayar iklan satu halaman penuh di surat kabar? Untuk muncul di televisi, butuh 40 hingga 60 juta per menit. Iklan di surat kabar lain lagi, per halamannya bisa sampai 450 juta. Pak Sutrisno Bachir saja untuk bilang ‘hidup adalah perbuatan’, seperti ditulis Majalah Tempo (18 Mei 2008), habis 20 miliar, jumlah yang cukup untuk berbuat sesuatu ketimbang buat bergaya di layar kaca. Singkatnya, saya miskin dan orang miskin tidak bisa ikutan demokrasi, termasuk demokrasi menentukan nilai nasi aking. Sebab “Demokrasi itu”, sabda Mas Rizal Malarangeng, “memang mahal bos!”.

Akhirnya, alasan yang lebih menakutkan adalah nasi aking lebih mengingatkan kita akan penjajahan. Dijajah Belanda, makan nasi Aking. Dijajah Jepang, makan nasi Aking. Pokoknya di jaman penjajahan, tiada hari tanpa nasi aking. Nasi aking adalah makanannya masyarakat terjajah. Haji, kelas atas pribumi yang berhasil pergi ke Makkah pun, dalam jaman penjajahan, berbekal karak dalam perjalanan. Eyang Kaji Gunawan, Eyang Kaji Dulmajid, Eyang Kaji Dulkamid juga haji-haji di jaman penjajahan dulu mungkin bisa jadi saksinya.

Jadi maksud sampeyan mau bilang; nasi aking adalah nasi yang dimakan orang miskin, nasi aking juga adalah makanan orang terjajah. Jadi dalam konteks pemaknaan nasi aking di Indonesia, subyek ‘orang miskin’ di jaman sekarang menggantikan subyek ‘orang terjajah’ yang menjadi makna dahulu. Dengan demikian, orang miskin di Indonesia sekarang sebenarnya sama dengan orang terjajah, begitu mas?” tanya teman saya. “Mungkin!” kata saya.

Terus penjajahnya siapa mas?”. Saya diam. “Apa orang-orang yang bilang kalau nasi aking itu indikator orang miskin?”. “Maksudmu?”.“Sebab hanya mereka yang mampu bilang nasi aking makanan orang miskin. Dengan menganjurkan tidak makan nasi aking, mereka itu berusaha menutupi penjajahan yang sedang dan akan mereka lakukan. Minimal mereka bisa mengatur harga beras, karena orang Indonesia makan beras, bukan nasi aking” teman saya berargumen. “Hush! Ngawur…”, sergah saya, sebab saya dan mungkin anda akan sangat berat untuk bilang; mungkin juga. “Wah kayak analisis tanda mas, semiotik banget!”. Saya tersenyum malu-malu dipuji teman saya yang mahasiswa itu. Bisa juga saya menganalisis gaya mahasiswa; kritis dan intelektual.”Saya jadi dapat ide bagus buat usaha Mas. Daripada jadi tim sukses 2009 nanti, gimana kalau kita mainkan harga nasi aking saja? Belum ada pemainnya lho mas…”. [ ]

*) Tulisan di atas atas jasa-jasa besar mas Holy Rafika, yang rela tulisan beliau dirampok tanpa imbalan. Tulisan tersebut dapat dinikmati juga di www.holyrafika.blogspot.com




ini adalah logo surat kabar kami, taglinenya adalah "seksi dan bermutu"
dapatkan surat kabar wawasan nusantara edisi cetak dengan memesan melalui situs ini.

Blog EntryJan 26, '08 12:31 PM
for everyone
Pernah, warga desa Mataram dibagi menjadi empat. Pertama, Kuli Kenceng yang merupakan warga desa inti yang telah menerima bagian tanah milik desa. Kedua, Kuli Kendo, yang memiliki pekarangan dan rumah serta masih termasuk dalam daftar warga desa yang suatu saat (jika ada lowongan) menjadi golongan penerima bagian tanah desa. Ketiga, Tumpang yang hanya memiliki rumah yang menumpang di halaman atau pekarangan orang lain. Keempat, Tumpang Tlosor yang sama sekali tidak memiliki rumah dan tinggal di rumah orang lain. (C. Van Vollenhoven, 1918)
    Golongan pertama, yaitu warga desa inti,  mendapat bagian kerja wajib yang paling berat; mengerjakan sawah kepala desa, ataupun pejabat desa lainnya, memelihara saluran pengairan, ikut gugur gunung, jaga malam, dan bila diperlukan, mereka juga harus siap ikut berperang sebagai tentara kerajaan. Selain itu mereka inilah yang dianggap mampu memikul beban pajak karena mereka mempunyai sarana untuk membayar pajak, yaitu bagian yang ia peroleh dari tanah komunal. Jadi pajak disesuaikan dengan hak dan kemampuan.
    Sekarang, atas nama pembangunan, semua rakyat dibebani pajak. Masyarakat cuma terbagi menjadi dua jenis; orang yang tidak bijak dan orang bijak yang taat membayar pajak…


Blog EntryJan 26, '08 12:30 PM
for everyone
Semenjak 1998, ketika era keterbukaan mulai ditegakkan di bumi Nusantara. Khilafah Islamiyah sering diperdengarkan oleh organisasi masyarakat atau bahkan partai politik yang memakai idiom Islam. Meski terdapat perdebatan antara apa yang dimaksud dengan khilafah islamiyah itu.
Dulu, di Nusantara, konsep kekhalifahan tidak diperbincangkan, atau tidak dibedakan dengan kerajaan. Para raja Jawa, dengan tidak mengubah konsep pemerintahan, hanya tertarik pada gelar khalifah. Amangkurat IV (1719-1724), adalah orang pertama yang menggunakan gelar “Prabu Mangkurat Senapati Ingalaga Ngabdu’-Rahman Sayidin Panatagama Kalipatullah” (C. Lekkerkerker, Land En Volk van Java, 1938). Soemarsaid Moertono (1980) menulis, bahwa gelar ini, begitu berjasa sebagai sumbangan Islam, untuk meningkatkan kebesaran raja. Lagi-lagi, bukan rakyat…


Blog EntryJan 26, '08 12:28 PM
for everyone
Kita mungkin terkesima, seperti terkesimanya peneliti cultural studies –dan mungkin para Foucauldian, bahwa ujian di sekolah atau lembaga edukasi, seringkali hanyalah ujian bagi pendengaran bukan ujian bagi pemahaman seseorang. Seakan teori bahwa “ujian bukanlah untuk pemahaman” itu adalah temuan termodern dari jaman yang begitu modern.

31 Oktober 1926, Indonesische Nederlandsch School didirikan di Kayu Tanam, Sumatera Barat oleh Mohammad Sjafei. Semboyan sekolah itu “Apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat, apa yang saya perbuat saya tahu”. Mirip dengan ajaran Konfusius jauh abad sebelum itu di Cina, yang dalam bahasa inggris berbunyi: “Tell Me and I will forget, show me and I may remember, involve me and I will understand”.

Ternyata, penekanan pada pendengaran dalam pendidikan sudah begitu lama tidak dipercaya. Dan tak perlu kaget bila perjokian dan mencontek adalah penyakit ujian. Siswa yang hanya mendengar, niscaya ia lupa ( barangkali pernghalusan dari makna aslinya; tak bisa apa-apa!).


Blog EntryJan 26, '08 12:08 PM
for everyone
Zainuddin Labai el-Junusiah, pendiri perguruan Diniyyah yang ada di Sumatera Barat, menentang keras apa yang dia anggap sebagai upaya Belanda memecah belah bangsa Indonesia dengan menciptakan kelompok elite berpendidikan Barat yang merasa terpisah dan lebih tinggi dari bangsanya sendiri. Demikian ini cerita yang disampaikan oleh anaknya;
“Pada suatu saat ayah naik kereta api dari Padang Panjang hendak ke Padang. Setelah kereta api berangkat, kebetulan dalam kereta api itu ada dua orang, satu orang belanda dan satu lagi orang Indonesia yang pandai berbahasa Belanda. Mereka ketawa riang dalam berbicara itu, suara mereka saja yang kedengaran. Ayah jengkel terhadap kedua orang itu; tampak benar bahwa penumpang yang lain dianggap bodoh saja oleh mereka.
Dengan rasa jengkel sambil melengong hilir mudik, mencari seorang untuk dilawan berbicara dalam bahasa arab. Kebetulan ada seorang penumpang yang memakai kopiah putih dengan arti beliau telah kembali dari tanah suci Mekkah dengan gelar ‘Haji’. Ayah mendekatkan diri kepada haji tersebut dengan berbicara dalam bahasa arab yang lancar dengan suara keras menandingi suara kedua orang tua yang berbahasa belanda itu. Anehnya haji itu hanya tersenyum-senyum saja dan mengangguk-anggukkan kepala seakan-akan dia mengerti betul apa yang diceritakan ayah saya dalam bahasa Arab itu. Walaupun ayah tahu bahwa haji yang dilawan bicara itu tidak mengerti sepatahpun kalimat bahasa arab, tetapi ayah merasa puas dengan caranya melawan orang pintar berbahasa belanda dengan ayah berbicara bahasa arab dengan seorang haji yang bodoh” (Hjh Zuraida Zainuddin, “Ayahku..!”, dalam H. Rahmah el Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El Yunusy. 1991)

Ketika saya  selesai menulis ini datang sebuah sms; hima humas fikom unpad proudly present; “seminar the integrated of marketing communication and public relation”…


Blog EntryJan 19, '08 5:08 PM
for everyone
Masyarakat Mataram Islam terbagi menjadi dua lapisan, yakni golongan priyayi (kelompok elit) yang diisi oleh golongan raja, kelompok kecil para pangeran keturunan raja, abdi dalem serta golongan besar warga negara biasa (tiyang alit atau wong cilik).

Namun kelompok elit Mataram dapat dimasuki oleh rakyat biasa (wong cilik) dengan jalan menjadi abdi raja. Ketika ia telah naik strata, ia disebut kawulawisuda. Kamus yang disusun oleh J.F.C. Gericke Javaansch-Nederduitsch Woordenboek pada 1847 menerjemahkan kawulawisuda sebagai “diangkat ke satu tingkat yang lebih tinggi” (kawula:rakyat/pelayan, wisuda; menaikkan pangkat).

Secara tidak langsung ini menyatakan bahwa warga negara biasa mempunyai kesempatan masuk ke kelompok elite dan juga bahwa hak masuknya hanya melalui jabatan negara (Soemarsaid Moertono, 1980). Dengan demikian, saat itu lapisan sosial atau kelas dibentuk oleh pemerintahan (wisuda hanyalah wewenang kenegaraan)

Jaman sekarang bukannya tanpa kelas. Jika anda ingin mengetahui siapa yang paling berperan membentuk kelas itu, maka tuduh saja lembaga yang paling sering menggunakan kata ‘wisuda’


Blog EntryJan 19, '08 5:03 PM
for everyone
            “Sewaktu mengajarkan sejarah, guru-guru memang memakai buku-buku sejarah buatan Belanda tetapi mengajarkannya dalam Bahasa Indonesia dan disampaikan dalam sudut pandang lain; misalnya Gubernur Jenderal pertama disebut bajak laut Belanda yang pertama datang ke Indonesia…”

Cerita biasa di atas disampaikan oleh Kamaluddin Muhammad, seorang novelis terkenal Malaysia mengenai pengalamannya bersekolah di perguruan Thawalib Sumatera Barat 1931-1935 (Audrey Kahin, 2005).

Namun dari penggalan cerita itu kita tahu mengapa kita sering mendengar hantu gentayangan di daerah Cadas Pengeran, atau sepanjang jalan Anyer hingga Panarukan. Mereka yang mati minta dihormati, kita malah menyebut jalan yang mereka bangun dengan keringat dan darah itu dengan sebuah nama yang tak patut. Nama seorang bajak laut; Daendels!


NoteBUKU TAMU
   
geslblues wrote on Jun 19, '09
apa yang dimaksud wawasan nusantara
kenyokania wrote on Apr 22, '09
ini ga terbit lagi yeuh?
deugalih wrote on Feb 24, '08
wakwaw.....
ternyata blog-na keren pisaaaaaan....
teu sia-sia punya temen yang jadi artis serba biasa....
deugalih wrote on Feb 8, '08
Berharap ada seri gambar cara-cara bermain permainan rakyat untuk bocah-bocah cilik.
denanny wrote on Feb 5, '08
saya ucapkan selamat atas edisi perdananya yang sangat menarik. kabar2i lagi kl terbit lagi saya akan menjadi pembaca setia anda!^_^
ipehcerita wrote on Feb 2, '08
hahahahahaha..ini siapa ini siapa ini siapa
insomniaakut wrote on Jan 28, '08
wah..gratis suratkabar wawasan nusantara yg cetak?!
terapi tetapi seumur hidup?
suratkabarnya bs dikirim k kosan tak?
aduh.. banyak maunya saya!
hmm... ya.. ya.. saya pasti akan baca sejarah bangsa saya.
mngingat kata bung karno mngenai 'jas merah'.
darinya, kita selalu bs berkaca kan?
artisserbabiasa wrote on Jan 28, '08
hai2..thx tulisan gua dah dimuat di terapi tetapi...
nanti gua mau kirim2 juga berita dari masa lalu... wah asik tenan... mas partha tolong sampaikan salam sama kang samiadji, bimasena, nakula dan sahadewa.. salam hangat juga buat mbah semar...hehe
wawasannusantara wrote on Jan 28, '08
wah.. tidak sia-sia anda insomnia... ternyata anda mengenali identitas kami.. selamat, anda mendapatkan hadiah dari kami berupa gratis surat kabar wawasan nusantara dan terapi tetapi seumur hidup!! teruslah membaca sejarah bangsa anda...
insomniaakut wrote on Jan 26, '08
waduh... trnyata arjuna dan orang tegal sudah bs memasuki dunia maya?
hebat.. dua orang besar yg berasal dr 2 tmpat yg brbeda (atau boleh dibilang dr 2 cerita yg brbeda?), akhirnya bs brsatu di sini.. smoga tetap mnjunjung nilai kbenaran yah!
trmasuk kbenaran ttg siapa anda sbenarnya... heuhehe...
insomniaakut wrote on Jan 22, '08
heyheyhey... ini sapa y?